Jumat, 20 Februari 2009

MAINAN EDUKATIF UNTUK SI BUAH HATI

Majalah “PARAS” no. 29/tahun lll/februari 2006

Bermain, selain sebagai sarana hiburan juga merupakan salah satu media pembelajaran yang efektif untuk anak. Berbagai sifat edukatif dapat disampaikan melalui satu permainan. Suasana yang santai dapat membuat penyampaian pesan menjadi lebih cepat dan mudah dimengerti. Namun bagaimana memilih permainan yang edukatif itu?
Menurut psikolog buah hati, Rustika Thamrin, mainan edukatif adalah semua mainan yang bias menstimulasi panca indra anak. Yang meliputi indra penglihatan, penciuman, pengecapan, perabaan dan pendengaran. Jadi, mainan edukatif itu variatif sekali dan tidak harus yang mahal. Kita bisa memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar kita. Misalnya dus bekas, atau gelas-gelas plastic yang ditumpuk-tumpuk. Aktifitas mandi juga bias dimanfaatkan sebagai permainan edukatif. Biarkan si kecil memasukkan air ke dalam ember dengan menggunakan ciduk. Semua itu akan melatih berbagai kemampuan dasar anak.
APA SAJA MANFAAT MAINAN EDUKATIF ITU?
  1. Melatih kemampuan motorik. Stimulasi motorik halus diperoleh saat anak menjemput mainannya, meraba, memegang dengan kelima jarinya, dan sebagainya. Sedang rangsangan untuk motorik kasar didapat saat anak menggerak-gerakkan mainanya, melempar, mengangkat, dan sebagainya.
  2. Melatih konsentrasi. Mainan edukatif dirancang untuk menggali kemampuan anak, termasuk dalam konsentrasi. Saat menyusun pasel, katakanlah, anak dituntut untuk focus pada gambar atau bentuk yang ada didepannya. Ia tidak berlari-larian atau melakukan aktifitas lain sehingga konsentrasinya bias jadi hasilnya tidak memuaskan.
  3. Mengenalkan konsep sebab akibat. Contohnya dengan memasukkan benda kcil ke dalam benda yang besar, anak akan memahami bahwa benda yang lebih kecil bias dimuat dalam benda yang lebih besar. Sedang benda yang lebih besar tidak dapat masuk kedalam benda yang lebih kecil. Ini adalah konsep sebab akibat yang sangat mendasar.
  4. Melatih bahasa dan wawasan. Barengi permainan mereka dengan penuturan cerita. Ini akan memberikan manfaat tambahan buat anak untuk meningkatkan bahasa dan wawasan.
  5. Mengenalkan warna dan bentuk.
KAPAN MAINAN EDUKATIF MULAI DIKENALKAN
Tentu sedini mungkin.Sejak usia batita, sodori anak dengan bermacam jenis mainan, baik edukatif atau bukan. Sekedarmengingatkan saja, perkembangan otak anak di usia ini masuk dalam fase emas (the golden age) atau otak si kecil sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat. Karena itu , stimulasi sangat diperlukan. Semakin banyak stimulasi, maka koneksi antar syarafnya semakin banyak terhubung.
Anak yang sudah akrab dengan mainan edukatif sejak dini, perkembangan kecerdasannya akan terlihat lebih maksimal. Ia lebih mampu konsentrasi, kreatif, dan tekun. Sementara yang tidak, biasanya akan lebih terlinggal. Dalam masalah intelektual, lebih sulit untuk belajar mengenai bentuk dan warna.
Mereka juga tidak biasa untuk duduk tenang dan tekun. Ini akan membuat anak sulit diarahkan untuk berkonsentrasi menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Menurut Rustika Thamrin,”banyak kasus, anak-anak yang sering bermain fisik dan terlalu sering menonton tv, diusia sekolahnya kurang berkonsentrasi, kurang telaten, tidak tekun, dan mudah menyerah, karena mereka tidak terbiasa untuk duduk tenang dan tekun.
Bagaimana mengoptimalkan manfaatnya?
Sebelum memberikan satu mainan edukatif, contohkan dulu cara memainkannya. Karena mainan edukatif berbeda dari mainan pada umumnya. Mobilan contohnya, hanya tinggal digeser-geser, ditarik atau didorong mungkin sikecil sudah asikmemainkannya. Tetapi jika mainan edukatif, ada cara tertentu untuk mendapatkan asyiknya. Karena perlu ada arahan dari orang dewasa.
Beberapa anak mungkin saja dapat bermain tanpa perlu diarahkan. Tapi jangan lupa kemampuan setiap anak berbeda. Ada yang cepat memahami kesalahannya dan cepat menganalisa, tapi ada juga yang biasa saja. Bila sikecil termasuk lambat dan tidak mendapatkan pengarahan, bia-bisa mainan edukatif hanya akan dibuangnya karena dianggap tidak menarik.
Satu hal penting, saat mengarahkan anak, jangan mengharuskan ia melakukan sesuai dengan yang sudah kita contohkan. Berikan kebebasan sesuai keinginannya. Contoh, saat kita membangun rumah-rumahan dari balok, biarkan ia membuat mobilan dari mainan yang sama.
Kuncinya biarkan mereka bermain dengan senang hati, tidak dengan terpaksa. Jika terpaksa, mereka tidak akan mau mengeksplorasi diri.
Contoh permainan untuk anak 1 tahun
  • Permainan memasukkan benda kedalam wadah atau menumpuk benda (seperti gelas plastik air mineral).
  • Setelah itu si kecil dapat ditawari mainan single puzzle, yaitu mainan yang pada penutupnya diberi lubang-lubang berbentuk geometris, seperti segitiga, segi empat, dan lingkaran.lalu anak diminta anak memasukkan benda yang sesuai dengan bentuknya. Namun, kita belum bisa menuntutnya untuk memasukkan setiap bentuk sampai selesai, melaikan satu persatu. Berikan ia bentuk segitiga dulu lalu arahkan tangannya untuk memasukkannya ke lubang yang sama dengan arah yang tepat.
  • Ajak si kecil untuk melakukan tuang-menuang air/ benda lain dari wadah yang kecil ke wadah yang lebih besar. Dengan begitu anak akan tahu bahwa air dari wadah yang lebih kecil bias tertampung dalam wadah yang lebih besar.
Contoh Permainan untuk Anak 2,5 – 3 tahun
  • Bila sebelumnya pasel yang diberikan hanya terdiri atas beberapa keeping saja, kini tingkatkan dengan pasel yang memiliki lebil banyak keping.
  • Permainan rancang bangun juga bias diberikan untuk merangsang koordinasi motoriknya. Anak sudah bisa membuat susunan bangunan ke atas sambil mengimajinasikan bentuk apa yang sedang dibuat meskipun belum terbentuk jelas. Ketika anak mampu bermain rancang bangun, pujilah apa yang sudah dihasilkannya. Meskipun bentuknya hanya susunan balok yang tidak berurutan, kita harus tetapmemberikan apresiasi agar merasa dihargai. Hindari sikap mencemooh yang akan memerosotkan motivasinya dalam berkreasi.
Apa yang Perlu diperhatikan Saat Membeli Mainan?
Membeli mainan edukatif memang perlu selektif. Kita harus menyesuaikan dengan usia anak dan kemampuan yang dimilikinya. Berikut panduannya :
Mainan Anak 1 Tahun
Di usia batita awal anak belum memiliki kemampuan motorik yang baik.jadi, kemampuan dasar inilah yang perlu dilatih.Namun permainan untuknya menyita waktu. Selalu damping si kecil saat bermain.
Mainan Anak 2 Tahun
Derajat mainan edukatif untuk anak usia ini sudah harus lebih tinggi. Bila sebelumnya diberi single puzzle, maka usia ini ajak bermain pasel dengan bentukyang lebih konpleks.
Mainan Anak Usia 2,5 – 3 Tahun
Tingkatkan lagi kerumitannya. Karena di usia ini anak perlu belajar mengorganisasi bagian-bagian yang terpisah menjadi satu kembali, anak juga dituntut untuk mulai belajar tekun menggunakan berbagai kemampuan untuk menyelesaikan masalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar